Jumat, 09 Desember 2016

AL-KINDI; Failasuf Arab - Muslim Pertama



 Al- Kindi (185 H/801 M – 260 H/873M) adalah failasuf Arab muslim pertama. Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq Ibn Sabbah Ibn Imran Ibn Ismail Al-Ash’ats bin Qais Al-Kindi. Lahir di Kufah, pada tahun 801 M, pada masa khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dari Dinasti Abbasiyyah (750-1258 M).[1]

Diantara failasuf yang pernah dilahirkan Islam pada abad pertengahan, hanya Al-Kindilah yang berkebangsaan Arab.[2] Menurut Fuad Ahwani, Al-Kindi lahir dari keluarga bangsawan, terpelajar, dan kaya. Ismail Al-Ash’ats Ibn Qais, buyutnya, telah memeluk Islam pada masa Nabi Muhammad Saw dan menjadi salah seorang sahabat Rasul. Lalu mereka pindah ke Kufah. Di Kufah, ayahnya, Ishaq Ibn Sabbah, menjabat sebagai gubernur pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785 M), Al-Hadi (785-876 M), juga Harun Al-Rasyid (876-909 M).

Pendidikan Al-Kindi dimulai di Kufah. Saat itu ia mempelajari Al-Qur’an, tata bahasa Arab, kesusastraan, ilmu hitung, fiqh, dan teologi. Di samping Basrah, Kufah saat itu merupakan pusat keilmuan dan kebudayaan Islam yang cenderung pada studi keilmuan rasional (aqliyah).[3] Tampaknya kondisi dan situasi inilah yang kemudian mempengaruhinya untuk memilih dan mendalami sains dan filsafat pada masa-masa berikutnya.

Al-Kindi lalu pindah ke Baghdad. Di sana ia mencurahkan perhatiannya untuk menerjemah dan mengkaji filsafat serta pemikiran-pemikiran rasional lainnya. Menurut Al-Qifthi, ia banyak menerjemahkan buku filsafat, menjelaskan hal-hal pelik lalu meringkaskan teori-teorinya. Hal itu diyakini karena Al-Kindi menguasai secara baik bahasa Yunani dan Syiria. Sebab kemampuannya itu, ia juga mampu memperbaiki hasil terjemahan orang lain.

Berkat kelebihan dan reputasinya dalam filsafat dan keilmuan, bertemu dan berteman baiklah ia dengan Khalifah Al-Makmun (813-833 M), seorang khalifah yang berpemikiran rasional dan filsafat. Lebih dari itu, ia kemudian diangkat menjadi penasihat dan guru istana pada masa Khalifah Al-Mu’tashim (833-842 M) dan Al-Watsiq (842-847 M). Posisi itu masih tetap dipegangnya pada masa awal kekuasaan Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M), yang kemudian ia dipecat akibat hasutan orang yang iri atas prestasi-prestasi yang dicapainya.[4]

Sikap iri dan permusuhan seperti inilah yang tampaknya telah memunculkan informasi-informasi negatif tentang watak dan sikap Al-Kindi. Misalnya, Al-Kindi ditampilkan sebagai sarjana yang pelit dan kikir. Sifatnya ini ditampilkan sebanding dengan popularitas dan prestasi keilmuannya. Namun, George N. Atiyeh meragukan kebenaran informasi tersebut. Sebab, menurutnya, para pengkritiknya juga tidak dapat melakukan hal lain kecuali memuji prestasi-prestasi akademik dan filsafatnya.

Al-Kindi meninggal di Baghdad pada tahun 873 M. Menurut Atiyeh, Al-Kindi meninggal dalam kesendirian dan kesunyian, hanya ditemani oleh orang-orang terdekatnya saja. Ciri khas kematian orang besar yang tak lagi disukai, sekaligus ciri kematian filsuf besar yang menyukai kesunyian.[5]

Sebagian besar karya Al-Kindi (berjumlah sekitar 270 buah) hilang. Ibn Al-Nadim dan Al-Qifti mengelompokkan tulisan-tulisannya yang berupa makalah menjadi tujuh belas, yaitu: filsafat, logika, ilmu hitung, globular, musik, astronomi, geometri, sperikal, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, meteorologi, dimensi, ramalan, logam, dan kimia, dll. Cakupan karya-karya tersebut menunjukkan luasnya wawasan dan pengetahuan Al-kindi.

Beberapa karyanya telah diterjemahkan oleh Gerard (1114-1187 M), tokoh dari Cremona, Italia, ke dalam bahasa Latin dan memberi pengaruh besar pada pemikiran Eropa abad-abad pertengahan. Karena itu, Geraloma Cardano (1501-1576 M), seorang tokoh matematika asal Italia, menilai Al-Kindi sebagai salah satu dari 12 pemikir besar dunia yang dikenal Eropa saat itu.[6]

Al-Falsafah Al-Ula adalah salah satu judul bukunya yang dipersembahkan kepada Khalifah Al-Musta’shim sekaligus menggambarkan pemikiran metafisikanya yang didasarkan atas konsep-konsep dari Aristoteles (384-322 SM). Pemikiran metafisika Al-Kindi, menurut George N. Atiyeh, diinspirasikan dari gagasan Aristoteles tentang Kebenaran pertama, tidak didasarkan atas ide-ide Plotinus (204-270 M) sebagaimana kebanyakan failasuf Muslim sesudahnya. Kebenaran pertama adalah penggerak pertama yang merupakan sebab dari semua kebenaran. Karena itu, Al-Kindi menggambarkan metafisika sebagai pengetahuan yang paling mulia, karena subjek kajiannya adalah sesuatu yang paling mulia dari semua realitas (Causa Prima). Berdasarkan hal ini, Al-Kindi kemudian mendefinisikan metafisika sebagai pengetahuan tentang hal-hal yang Ilahiah, yang dalam konsep Aristoteles disebut sebagai penggerak yang tidak bergerak. Dalam segi agama, argumen Al-Kindi sejalan dengan Ilmu Kalam; adanya alam mengharuskan adanya pencipta, yang mencipta dari tiada (creatio ex nihilo). Namun, cakupan kajiannya tidak meliputi segala yang wujud sebagai wujud (being qua being) sebagaimana dalam pemikiran Aristoteles, tetapi hanya terbatas pada masalah Tuhan, perbuatan-perbuatan kreatif-Nya, dan hubungan-Nya dengan alam ciptaan. Artinya, Al-Kindi mengikuti Aristoteles tetapi tidak sama persis. Dan disinilah orisinilitas Al-Kindi.

Pandangan Al-Kindi mengenai epistemologi dapat dikenali dari pandangannya mengenai filsafat. Filsafat dirumuskannya sebagai berikut: “Filsafat adalah ilmu tentang hakikat (kebenaran) sesuatu menurut kesanggupan manusia, yang mencakup ilmu Ketuhanan, ilmu Keesaan (Wahdaniyah), ilmu Keutamaan (fadhilah), ilmu tentang semua yang berguna dan cara memperolehnya, serta cara menjauhi perkara-perkara yang merugikan”.

Al-Kindi membagi akal menjadi empat jenis: akal murni, akal potensial, akal aktual, dan akal yang selalu tampil. Akal murni berada di luar jiwa. Akal ini selalu aktif dan bersifat Ilahi.

Mengenai pengetahuan, Al-Kindi mengelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) Pengetahuan Ilahi (define science), yaitu pengetahuan langsung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini ialah keyakinan; (2) Pengetahuan Manusiawi (human science) atau falsafat. Dasarnya ialah pemikiran (ratio-reason). Argumen-argumen yang dibawa Al-Qur’an lebih meyakinkan daripada yang ditimbulkan filsafat. Kedua pengetahuan ini tidak saling bertentangan, hanya dasar dan argumentasinya saja yang berbeda. Dengan kata lain, pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang menggunakan akal, sedangkan pengetahuan Ilahi berasal dari wahyu. Selanjutnya Al-Kindi membagi pengetahuan manusiawi menjadi dua, aqli dan naqli. Pengetahuan pertama dapat mengungkapkan hakikat sesuatu, sedangkan pengetahuan terakhir hanya dapat mengungkapkan bagian-bagian sifat dari objeknya. Hakikat yang dimaksud adalah sifat-sifat umum dari objek.[7]

Sedangkan mengenai etika, Al-Kindi dalam filsafatnya mengatakan bahwa filsafat adalah upaya meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau kemampuan manusia. Maksud definisinya ini, manusia memiliki keutamaan yang sempurna (keutamaan manusiawi). Al-Kindi berpendapat bahwa keutamaan ini tidak lain adalah budi pekerti manusiawi yang terpuji. Keutamaan ini kemudian dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, asas dalam jiwa, yaitu pengetahuan dan perbuatan (ilmu dan amal), yang kemudian dibagi lagi menjadi tiga, yaitu kebijaksanaan (hikmah), keberanian (sajaah), dan kesucian (‘iffah). Keutamaan kejiwaan tersebut merupakan benteng keutamaan yang pada umumnya menjadi pemisah antara keutamaan dan kenistaan. Dengan kata lain, menjadi induk dari keutamaan lainnya. Oleh karenanya, lebih atau kurangnya tiga keutamaan tersebut dianggap sebagai kenistaan. Kedua, keutamaan yang tidak terdapat di dalam jiwa, tetapi merupakan hasil dan buah dari tiga keutamaan di atas. Ketiga, hasil kadaan lurus dari tiga macam keutamaan di atas yang tercermin dalam keadilan.

Dari uraian tersebut, diperoleh konklusi bahwa keutamaan-keutamaan manusiawi terdapat dalam sifat-sifat kejiwaan dan dalam buah yang dihasilkan oleh sifat-sifat tersebut. Jika orang hidup memenuhi nilai-nilai tersebut, niscaya hasilnya ia akan hidup bahagia. Selagi manusia menjadikan hidup bahagia sebagai tujuan akhir hidupnya, maka orang itu harus membekali diri dengan keutamaan-keutamaan tersebut.[8]

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa Al-Kindi adalah failasuf Islam yang mula-mula secara sadar mempertemukan ajaran-ajaran Islam dengan filsafat Yunani. Al-Kindi amat percaya kepada kemampuan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang realitas. Tetapi dalam waktu yang sama, diakuinya pula keterbatasan akal untuk mencapai pengetahuan metafisis. Oleh karenanya, menurutnya, diperlukan adanya Nabi yang mengajarkan hal-hal diluar jangkauan akal manusia yang diperoleh dari wahyu Tuhan. Dengan demikian, Al-Kindi tidak sependapat dengan para failasuf Yunani dalam hal-hal yang dirasa bertentangan dengan ajaran agama Islam yang diyakininya.


[1] Khudori Soleh, Filsafat Islam Dari Klasik Hingga Kontemporer, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 88.
[2] Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), 62.
[3] M. M. Syarif, Para Filosof Muslim, peny. Ilyas Hasan (Bandung: Mizan, 1992), 12.
[4] Ibid, 12-13.
[5] Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filasafat Islam, (Dina Utama Semarang: Semarang), 2.
[6] Op cit, 13.
[7] Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam; Pengantar Filsafat Pengetahuan Islam, (UI-Press: Jakarta, 2006), 43.
[8] A. Mustofa, Filsafat Islam, (Pustaka Setia: Bandung, 2007), 110-111.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar